Bantahan Terhadap Pendapat Mahmud al-Istanbuli Yang Membolehkan Penulisan Mushaf Tanpa Berwudhu

4 Maret 2023 1 Min Baca

Pertanyaan:

Dalam sebuah buku berjudul “Tuhfah al-‘Arus” atau “az-Zawaaj al-Islaami al-Sa’iid” karya Mahmud Mahdi al-Istambuli, di halaman 389 ada catatan pinggir di baris kedua belas yang berbunyi: “Terkait dengan topik tentang menyentuh Al-Quran, orang yang sedang junub atau haid tidak dilarang menyentuhnya, sekali pun lebih baik dilakukan dalam kondisi suci. “Dhamir” (kata ganti) dalam Firman Allah Ta`ala,

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ (77) فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ (78) لاَ يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ

“Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia,(77) Pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh)(78) Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.” (QS. Al-Waqi’ah: 77-79)

Tertuju kepada kata “al-Lauh” bukan kata “al-Quran al-Karim”. Di samping itu, maksud dari kata “al-Muthahharun” itu adalah para malaikat, dan kata “Thahir” dalam hadits,

لا يمس القرآن إلا طاهر

“Tidak boleh menyentuh Al-Quran kecuali orang yang suci.”

Bermakna orang yang beriman. Dalam hadits lain juga disebutkan bahwa,

المؤمن لا ينجس

“Orang Mukmin itu tidak najis.”

Mohon jawabannya.

Jawaban Ulama:

Pendapat buku di atas yang membolehkan orang yang berhadas menyentuh Al-Quran adalah pendapat yang salah. Sebab, hal itu bertentangan dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam surat Amr bin Hazm,

لا يمس القرآن إلا طاهر

“Tidak boleh menyentuh Al-Quran kecuali orang yang suci.”

Hal ini sudah disepakati oleh para ulama Islam seperti yang dilansir oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Sumber & Rujukan

Kitab Rujukan / Sumber Asli
Fatwa Nomor 17844